" Allah membenci kemaksiatan dan mengharamkannya atas manusia, dan menyiapkan jahannam untuk pelakunya. Namun, bila kemaksiatan yang pernah dilakukannya menjadi pemecut nuraninya yang sedang tidur, menimbulkan kesedihan dalam hatinya, matanya melelehkan air dan merasa sangat menyesal karena takut akan ancaman Allah padanya, maka rasa takut dan sesal orang yang melakukan maksiyat ini lebih baik daripada ibadah yang hanya melahirkan kesombongan..."
"Robbana zholamna anfusana wa ilamtaghfirlana watarhamna lanakuunanna minnal khasyirin..."
Senin, 15 Februari 2010
Minggu, 14 Februari 2010
Tafakur ( Kisah Seorang yang Rajin Berdoa)
Ketika kumohon kepada Allah kekuatan,
Allah memberikan kesulitan agar aku menjadi kuat
Ketika kumohon kepada Allah kebijaksanaan,
Allah memberikan masalah untuk aku pecahkan
Ketika kumohon kepada Allah kesejahteraan,
Allah memberiku akal untuk berpikir
Ketika kumohon kepada Allah keberanian,
Allah memberiku kondisi bahaya untuk aaku atasi
Ketika kumohon kepada Allah sebuah cinta,
Allah membawaku kepada orang-orang bermasalah untuk kutolong
Ketika kumohon kepada Allah bantuan,
Allah memberiku kesempatan
Aku tak pernah menerima apa yang kupinta,
Tapi aku menerima apa yang aku butuhkan...
(Puisi indah yang pernah dikirimkan oleh seorang sahabat untukku... Miss her so much...)
Bekasi 15 Februari 2010
Allah memberikan kesulitan agar aku menjadi kuat
Ketika kumohon kepada Allah kebijaksanaan,
Allah memberikan masalah untuk aku pecahkan
Ketika kumohon kepada Allah kesejahteraan,
Allah memberiku akal untuk berpikir
Ketika kumohon kepada Allah keberanian,
Allah memberiku kondisi bahaya untuk aaku atasi
Ketika kumohon kepada Allah sebuah cinta,
Allah membawaku kepada orang-orang bermasalah untuk kutolong
Ketika kumohon kepada Allah bantuan,
Allah memberiku kesempatan
Aku tak pernah menerima apa yang kupinta,
Tapi aku menerima apa yang aku butuhkan...
(Puisi indah yang pernah dikirimkan oleh seorang sahabat untukku... Miss her so much...)
Bekasi 15 Februari 2010
Selasa, 26 Januari 2010
Mengambil Hikmah dari Marah-Marahnya Hasna
Saya memiliki seorang anak perempuan yang istimewa berusia 4 tahun, namanya Hasna. Anak yang cantik, cerdas, selalu punya inisiatif dan kenginan sendiri sehingga seringkali terlihat sulit atau tidak mau diatur, namun ternyata dibalik itu memiliki hati yang lembut dan penyayang.
Di usianya yang menginjak 4 tahun, Hasna punya satu perilaku yang sering kali di ulang-ulang (saya tidak mau menyebut perilaku tersebut sebagai kebiasaan apalagi tabiat, hal ini karena saya sangat tidak ingin perilaku tersebut menjadi kebiasaan dan tabiat anak saya dan saya sangat berharap seiring dengan berlalunya waktu, perilaku itu akan hilang dengan sendirinya, mengingat usianya pun masih sangat muda)
Perilaku yang saya maksud tersebut adalah marah-marah atau membentak-bentak orang-orang disekitarnya apabila hal-hal yang diminta tidak dapat dipenuhi oleh orang disekelilingnya atau ada sesuatu yang tidak berjalan sesuai dengan keinginannya. Saya tidak tahu dari mana awalnya Hasna mencontoh perilaku tersebut. Namun yang jelas saat ini dia cukup sering melakukannya.
Karena menurut saya perilaku tersebut bukanlah perilaku yang baik dan Hasna harus mulai belajar mengontrol emosinya, maka segala macam cara telah saya coba untuk membantunya. Mulai dari memberitahu secara langsung dengan lembut mengapa ia tidak boleh melakukannya, membujuk, memberi tahu lewat cerita, membuat kesepakatan dan konsekuensinya, mengabaikannya jika ia berperilaku seperti itu, memberi hadiah jika tidak menunjukkan perilaku tersebut, memberi tahu dengan tegas, memberlakukan "time out", sampai pada akhirnya memarahinya setiap kali dia marah-marah atau membentak-bentak karena saya mulai kehilangan kesabaran.
Semuanya tidak berhasil membantu Hasna untuk mengerti bahwa perilaku tersebut bukan perilaku yang baik. Semakin besar obsesi saya untuk membuatnya berubah dan semakin sering Hasna dimarahi, perilakunya justru semakin sering dilakukan... (mungkin ketika saya ikutan marah, Hasna justru melihatnya sebagai pembenaran..."tuh kan.... Bunda aja marah-marah kalau aku marah...". atau...saya malah khawatir jangan-jangan tanpa sadar, saya yang selama ini telah mencontohkan perilaku tersebut kepada Hasna...hiks...)
Anyway, pada suatu hari ketika Hasna sedang menunjukkan perilaku marah-marahnya kepada saya plus membanting pintu kamar dihadapan saya, karena saya tidak dapat memenuhi keinginannya, saya mencoba untuk mengontrol diri saya. Saya hampiri Hasna yang sedang cemberut, saya pegang tangannya dan duduk bersimpuh hingga tinggi saya sejajar dengan tinggi tubuhnya dan mata saya sejajar dengan matanya. Saya tatap matanya cukup lama dan kemudian berusaha untuk tersenyum dan berkata dengan lembut kepadanya "Hasna...anak Bunda sayang... Hasna ingat tadi apa yang Hasna lakukan sama Bunda?... Hasna marah-marah sama Bunda, bicara dengan suara yang keras, trus Hasna banting pintu... Menurut Hasna begitu baik atau tidak, Nak... Hasna tau, sayang... marah-marahnya Hasna membuat Bunda sediih....sekali, sediih sekali Nak... Bunda tau Hasna ingin sesuatu, tapi Bunda belum bisa memenuhi keinginan Hasna, Bunda minta maaf sekali, Nak... tapi tidak semua keinginan Hasna bisa dipenuhi saat itu juga dan bahkan mungkin ada keinginan-keinginan yang selamanya tidak dapat dipenuhi, bukan karena Bunda tidak mau memenuhi, tapi karena apa yang Hasna inginkan tidak baik untuk Hasna.." Saya diam sejenak, dan tanpa terasa air mata meleleh dipipi saya. Hasna anak baik... Bunda sayang.... sekali sama Hasna, Hasna anak pandai dan hebat... Hebat sekali... Anak baik tidak marah-marah seperti itu pada Bundanya, Nak... sama Ayahnya, sama Mbaknya dan sama semua orang... Bunda ingin Hasna belajar untuk tidak marah-marah lagi, Nak...". Kemudian saya dekap anak saya erat dan saya elus kepalanya. Saya biarkan air mata saya ters mengalir.
Tanpa saya duga, Hasna pun menangis dalam pelukan saya. Dengan suara yang terbata-bata ia berkata, "Bunda..., aku minta maaf...aku ngga mau marah-marah lagi, Hasna sayang Bunda, Bunda jangan nangis...Hasna ngga mau marah sama Bunda...Hasna ngga mau marah sama siapa-siapa, marah-marah itu jelek..." (Akhirnya kami berdua pun bertangis-tangisan, dan entah mengapa saya merasa lega dan yakin bahwa Hasna mengerti kesedihan dan keinginan saya)
Setelah peristiwa itu saya melihat sedikit demi sedikit Hasna menunjukkan perubahan. Apabila keinginannya tidak dipenuhi dan mulai akan marah, saya pegang tangannya, duduk sejajar dengan dia dan berbicara sambil menatap matanya..."Hasna, Hasna kesal ya... sabar, Nak...Hasna anak sholehah... anak sholehah boleh kesal, boleh kecewa, boleh tidak senang, tapi tidak perlu bentak-bentak ya Nak..." Biasanya setelah itu, meskipun wajahnya tetap cemberut, rasa marah dan kecewanya tidak dilampiaskan dalam bentuk marah-marah dan bentak-bentak. Paling-paling akhirnya berbutut pada gerutuan "Aku mau ini...bla...bla...bla....aku kesal Bunda..." Fiuh... saya merasa cukup lega... Alhamdulillah perilaku itu pelan-pelan berkurang, dan saya berharap seiring dengan berjalannya waktu Hasna lebih mampu untuk mengontrol emosinya.
Ada banyak pelajaran berharga yang dapat saya petik dari peristiwa tersebut. Pelajaran pertama adalah anak kita adalah peniru yang baik. Apabila ada perilakunya yang salah maka pihak pertama yang harus bercermin adalah orang tuanya, terlebih lagi Ibunya. Bukankah buah jatuh tak jauh dari pohonnya?. Bisa jadi tanpa sadar orang tua, kakak, pengasuh atau lingkungan terdekatnyalah yang mencontohkan perilaku tersebut.
Pelajaran kedua yang dapat dipetik adalah mendidik anak ternyata tidak ada sekolahnya. Kadang teori-teori tentang pendidikan anak yang kita baca dari buku-buku, kita lihat di TV, kita dapatkan dari seminar-seminar pengasuhan anak, atau bahkan kita dapatkan semasa kuliah (dulu sayaa kuliah di Fakultas Psikologi), ternyata ketika diterapkan tidak selalu memberikan hasil seperti apa yang kita inginkan. Mendidik anak harus dilakukan dengan hati. Ketika hati kita yang berbicara dengan anak, maka anak akan lebih mudah menerimanya, dan apa yang disampaikan lebih lama diingat olehnya.
Pelajaran ketiga yang dapat dipetik adalah kenali anak kita. Setiap anak memiliki karakter berbeda dan karenanya harus didekati dengan cara yang berbeda.
Pelajaran keempat yang dapat dipetik adalah ketika mendidik anak, mengenalkan mereka dengan konsep "baik" dan "buruk" pendekatan kekuasaan dan kekerasan, baik itu yang dilakukan dalam bentuk fisik maupun verbal bukanlah jalan yang terbaik. Kehidupan ini telah begitu keras. Kasih sayang, kelemah-lembutan dan kesabaran yang tidak ada habisnya, sekali lagi yang tidak ada habisnya, ternyata jauh lebih dibutuhkan oleh anak-anak kita tercinta agar ia dapat tumbuh menjadi pribadi sehat "rohani" dan "jasmani".
Semoga cerita sederhana ini ada manfaatnya bagi kita semua...
Pelajaran berharga dari anakku tercinta Hasna Taqiyya, doakan Bunda semoga bisa menjadi Bunda yang Sholihah, yang dapat memberikan cinta dan kasih kepadamu tanpa pamrih sebagaimana sang surya menyinari dunia...
"Rabbana hablanaa min azwajinna wa dzurriyatina quratta'a'yunina waj'alna lil muttaqqiinna imaama"... Amiin.
Di usianya yang menginjak 4 tahun, Hasna punya satu perilaku yang sering kali di ulang-ulang (saya tidak mau menyebut perilaku tersebut sebagai kebiasaan apalagi tabiat, hal ini karena saya sangat tidak ingin perilaku tersebut menjadi kebiasaan dan tabiat anak saya dan saya sangat berharap seiring dengan berlalunya waktu, perilaku itu akan hilang dengan sendirinya, mengingat usianya pun masih sangat muda)
Perilaku yang saya maksud tersebut adalah marah-marah atau membentak-bentak orang-orang disekitarnya apabila hal-hal yang diminta tidak dapat dipenuhi oleh orang disekelilingnya atau ada sesuatu yang tidak berjalan sesuai dengan keinginannya. Saya tidak tahu dari mana awalnya Hasna mencontoh perilaku tersebut. Namun yang jelas saat ini dia cukup sering melakukannya.
Karena menurut saya perilaku tersebut bukanlah perilaku yang baik dan Hasna harus mulai belajar mengontrol emosinya, maka segala macam cara telah saya coba untuk membantunya. Mulai dari memberitahu secara langsung dengan lembut mengapa ia tidak boleh melakukannya, membujuk, memberi tahu lewat cerita, membuat kesepakatan dan konsekuensinya, mengabaikannya jika ia berperilaku seperti itu, memberi hadiah jika tidak menunjukkan perilaku tersebut, memberi tahu dengan tegas, memberlakukan "time out", sampai pada akhirnya memarahinya setiap kali dia marah-marah atau membentak-bentak karena saya mulai kehilangan kesabaran.
Semuanya tidak berhasil membantu Hasna untuk mengerti bahwa perilaku tersebut bukan perilaku yang baik. Semakin besar obsesi saya untuk membuatnya berubah dan semakin sering Hasna dimarahi, perilakunya justru semakin sering dilakukan... (mungkin ketika saya ikutan marah, Hasna justru melihatnya sebagai pembenaran..."tuh kan.... Bunda aja marah-marah kalau aku marah...". atau...saya malah khawatir jangan-jangan tanpa sadar, saya yang selama ini telah mencontohkan perilaku tersebut kepada Hasna...hiks...)
Anyway, pada suatu hari ketika Hasna sedang menunjukkan perilaku marah-marahnya kepada saya plus membanting pintu kamar dihadapan saya, karena saya tidak dapat memenuhi keinginannya, saya mencoba untuk mengontrol diri saya. Saya hampiri Hasna yang sedang cemberut, saya pegang tangannya dan duduk bersimpuh hingga tinggi saya sejajar dengan tinggi tubuhnya dan mata saya sejajar dengan matanya. Saya tatap matanya cukup lama dan kemudian berusaha untuk tersenyum dan berkata dengan lembut kepadanya "Hasna...anak Bunda sayang... Hasna ingat tadi apa yang Hasna lakukan sama Bunda?... Hasna marah-marah sama Bunda, bicara dengan suara yang keras, trus Hasna banting pintu... Menurut Hasna begitu baik atau tidak, Nak... Hasna tau, sayang... marah-marahnya Hasna membuat Bunda sediih....sekali, sediih sekali Nak... Bunda tau Hasna ingin sesuatu, tapi Bunda belum bisa memenuhi keinginan Hasna, Bunda minta maaf sekali, Nak... tapi tidak semua keinginan Hasna bisa dipenuhi saat itu juga dan bahkan mungkin ada keinginan-keinginan yang selamanya tidak dapat dipenuhi, bukan karena Bunda tidak mau memenuhi, tapi karena apa yang Hasna inginkan tidak baik untuk Hasna.." Saya diam sejenak, dan tanpa terasa air mata meleleh dipipi saya. Hasna anak baik... Bunda sayang.... sekali sama Hasna, Hasna anak pandai dan hebat... Hebat sekali... Anak baik tidak marah-marah seperti itu pada Bundanya, Nak... sama Ayahnya, sama Mbaknya dan sama semua orang... Bunda ingin Hasna belajar untuk tidak marah-marah lagi, Nak...". Kemudian saya dekap anak saya erat dan saya elus kepalanya. Saya biarkan air mata saya ters mengalir.
Tanpa saya duga, Hasna pun menangis dalam pelukan saya. Dengan suara yang terbata-bata ia berkata, "Bunda..., aku minta maaf...aku ngga mau marah-marah lagi, Hasna sayang Bunda, Bunda jangan nangis...Hasna ngga mau marah sama Bunda...Hasna ngga mau marah sama siapa-siapa, marah-marah itu jelek..." (Akhirnya kami berdua pun bertangis-tangisan, dan entah mengapa saya merasa lega dan yakin bahwa Hasna mengerti kesedihan dan keinginan saya)
Setelah peristiwa itu saya melihat sedikit demi sedikit Hasna menunjukkan perubahan. Apabila keinginannya tidak dipenuhi dan mulai akan marah, saya pegang tangannya, duduk sejajar dengan dia dan berbicara sambil menatap matanya..."Hasna, Hasna kesal ya... sabar, Nak...Hasna anak sholehah... anak sholehah boleh kesal, boleh kecewa, boleh tidak senang, tapi tidak perlu bentak-bentak ya Nak..." Biasanya setelah itu, meskipun wajahnya tetap cemberut, rasa marah dan kecewanya tidak dilampiaskan dalam bentuk marah-marah dan bentak-bentak. Paling-paling akhirnya berbutut pada gerutuan "Aku mau ini...bla...bla...bla....aku kesal Bunda..." Fiuh... saya merasa cukup lega... Alhamdulillah perilaku itu pelan-pelan berkurang, dan saya berharap seiring dengan berjalannya waktu Hasna lebih mampu untuk mengontrol emosinya.
Ada banyak pelajaran berharga yang dapat saya petik dari peristiwa tersebut. Pelajaran pertama adalah anak kita adalah peniru yang baik. Apabila ada perilakunya yang salah maka pihak pertama yang harus bercermin adalah orang tuanya, terlebih lagi Ibunya. Bukankah buah jatuh tak jauh dari pohonnya?. Bisa jadi tanpa sadar orang tua, kakak, pengasuh atau lingkungan terdekatnyalah yang mencontohkan perilaku tersebut.
Pelajaran kedua yang dapat dipetik adalah mendidik anak ternyata tidak ada sekolahnya. Kadang teori-teori tentang pendidikan anak yang kita baca dari buku-buku, kita lihat di TV, kita dapatkan dari seminar-seminar pengasuhan anak, atau bahkan kita dapatkan semasa kuliah (dulu sayaa kuliah di Fakultas Psikologi), ternyata ketika diterapkan tidak selalu memberikan hasil seperti apa yang kita inginkan. Mendidik anak harus dilakukan dengan hati. Ketika hati kita yang berbicara dengan anak, maka anak akan lebih mudah menerimanya, dan apa yang disampaikan lebih lama diingat olehnya.
Pelajaran ketiga yang dapat dipetik adalah kenali anak kita. Setiap anak memiliki karakter berbeda dan karenanya harus didekati dengan cara yang berbeda.
Pelajaran keempat yang dapat dipetik adalah ketika mendidik anak, mengenalkan mereka dengan konsep "baik" dan "buruk" pendekatan kekuasaan dan kekerasan, baik itu yang dilakukan dalam bentuk fisik maupun verbal bukanlah jalan yang terbaik. Kehidupan ini telah begitu keras. Kasih sayang, kelemah-lembutan dan kesabaran yang tidak ada habisnya, sekali lagi yang tidak ada habisnya, ternyata jauh lebih dibutuhkan oleh anak-anak kita tercinta agar ia dapat tumbuh menjadi pribadi sehat "rohani" dan "jasmani".
Semoga cerita sederhana ini ada manfaatnya bagi kita semua...
Pelajaran berharga dari anakku tercinta Hasna Taqiyya, doakan Bunda semoga bisa menjadi Bunda yang Sholihah, yang dapat memberikan cinta dan kasih kepadamu tanpa pamrih sebagaimana sang surya menyinari dunia...
"Rabbana hablanaa min azwajinna wa dzurriyatina quratta'a'yunina waj'alna lil muttaqqiinna imaama"... Amiin.
Minggu, 24 Januari 2010
Tanam pikiran, tuai tindakan;
Tanam tindakan, tuai kebiasaan;
Tanam kebiasaan, tuai karakter;
Tanam karakter, tuai nasib.
-Samuel Smiles-
Hidup adalah perjalanan. Meskipun Tuhan telah menggariskan jalur mana yang akan ditempuh oleh seorang manusia, pada akhirnya yang menentukan seperti apa "bentuk,warna dan rasa" yang akan kita jalani adalah diri kita sendiri.
Berpikir baiklah tentang diri kita sendiri agar kita dapat mengisi hidup dengan tindakan-tindakan baik, yang dapat memberikan manfaat dan kebahagiaan bagi orang lain. Kata-kata bijak mengingatkan bahwa "dirimu adalah apa yang kau pikirkan".
Berusahalah untuk terus-menerus bertindak baik, meskipun sulit, agar kebaikan itu menjadi bagian yang tak lepas dari diri kita. Alangkah indahnya jika suatu saat nanti di mana kita tak lagi ada di dunia ini, tindakan-tindakan baik yang kita lakukan tetap tinggal selamanya dalam hati orang-orang yang kita tinggalkan.
"Rabbi audzi'ni, an asykura ni'matakallati an'amta alayya, wa'ala walidayya, wa an a'malan shalihan tardhahu, wa adkhilni birahmatika ya arhama raahimiin..." Amiin.
Tanam tindakan, tuai kebiasaan;
Tanam kebiasaan, tuai karakter;
Tanam karakter, tuai nasib.
-Samuel Smiles-
Hidup adalah perjalanan. Meskipun Tuhan telah menggariskan jalur mana yang akan ditempuh oleh seorang manusia, pada akhirnya yang menentukan seperti apa "bentuk,warna dan rasa" yang akan kita jalani adalah diri kita sendiri.
Berpikir baiklah tentang diri kita sendiri agar kita dapat mengisi hidup dengan tindakan-tindakan baik, yang dapat memberikan manfaat dan kebahagiaan bagi orang lain. Kata-kata bijak mengingatkan bahwa "dirimu adalah apa yang kau pikirkan".
Berusahalah untuk terus-menerus bertindak baik, meskipun sulit, agar kebaikan itu menjadi bagian yang tak lepas dari diri kita. Alangkah indahnya jika suatu saat nanti di mana kita tak lagi ada di dunia ini, tindakan-tindakan baik yang kita lakukan tetap tinggal selamanya dalam hati orang-orang yang kita tinggalkan.
"Rabbi audzi'ni, an asykura ni'matakallati an'amta alayya, wa'ala walidayya, wa an a'malan shalihan tardhahu, wa adkhilni birahmatika ya arhama raahimiin..." Amiin.
Jumat, 15 Januari 2010
What Is Love All About
Love is not about "it's your fault" but "i am sorry"
Love is not about "how could you" but "i understand"
Love is not about "where are you" but "i am right here"
Love is not about "i wish you were" but "i am thankful you are"
Love is not about becoming somebody else perfect person but finding someone who can help you becoming the best person that you can be...
Love is not about "how could you" but "i understand"
Love is not about "where are you" but "i am right here"
Love is not about "i wish you were" but "i am thankful you are"
Love is not about becoming somebody else perfect person but finding someone who can help you becoming the best person that you can be...
Langganan:
Postingan (Atom)

